Selasa, 18 Maret 2014

Leptospirosis pada Anjing



Pendahuluan
Leptospirosis merupakan salah satu penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya (zoonosis) yang disebabkan oleh adanya  infeksi bakteri. Kasus leptospira banyak terjadi di Negara-negara berkembang seperti di Indonesia. Kasus ini umumnya banyak ditemukan pada hewan pada musim-musim penghujan.

Leptospira merupakan salah satu jenis bakteri gram negative yang dapat hidup dalam waktu lama di air, tanah yang lembap, tanaman dan lumpur.  Kasus leptospirosis pada hewan dapat bersifat akut maupun sub akut, pada kondisi sub akut penyakit ini akan bersifat subklinis (Quinn et al. 2002).

Bakteri Leptospira bertahan dalam waktu yang lama di dalam ginjal hewan sehingga bakteri akan banyak dikeluarkan hewan lewat urin. Manusia merupakan induk semang terakhir sehingga penularan antarmanusia jarang terjadi (Quinn et al. 2002).

Umumnya penularan penyakit terjadi akibat adanya kontak langsung dengan air limbah yang terkontamonasi oleh bakteri ini (konsumsi, kontak langsung dengan mukosa atau kulit yang rusak), luka gigitan, dan konsumsi jaringan dari hewan yang terinfeksi. Peneguhan Diagnosis biasanya dilakukan dengan menguji ada tidaknya bakteri dalam sampel, biasanya urin, atau darah.

Gejala Klinis
Menurut Quinn (2002), Gejala secara umum pada hewan yang terinfeksi oleh bakteri leptospira ialah ikterus atau jaundis, yakni warna kekuningan, karena pecahnya butir darah merah (eritrosit) sehingga ada hemoglobin dalam urin. Gejala lain yaitu demam, tidak nafsu makan, depresi, nyeri pada bagian-bagian tubuh, gagal ginjal, gangguan kesuburan, dan kadang kematian . Apabila penyakit ini menyerang ginjal atau hati secara akut maka gejala yang timbul yaitu radang mukosa mata (konjungtivitis), radang hidung (rhinitis), radang tonsil (tonsillitis), batuk dan sesak napas.  

Pada anjing yang sembuh dari infeksi akut kadang kala tetap mengalami radang ginjal interstitial kronis atau radang hati (hepatitis) kronis. Dalam keadaan demikian gejala yang muncul yaitu penimbunan cairan di abdomen (ascites), banyak minum, banyak urinasi, turun berat badan dan gejala saraf. Pada kucing  yang terinfeksi biasanya tidak menunjukkan gejala walaupun ia mampu menyebarkan bakteri ini ke lingkungan untuk jangka waktu yang tidak pasti.  Leptospirosis pada anjing dan kucing juga dapat menyebabkan infertilitas pada system reproduksi betina serta abortus (Quinn et al. 2002).

Patogenesa
Bakteri leptospira masuk ke dalam tubuh melalui kulit atau selaput lendir. Setelah didalam tubuh bakteri ini akan mengalami multiplikasi (perbanyakan) di dalam darah dan jaringan. Selanjutnya akan terjadi leptospiremia, yakni penimbunan bakteri Leptospira di dalam darah sehingga bakteri akan menyebar ke berbagai jaringan tubuh terutama ginjal dan hati. Di ginjal bakteri ini akan bermigrasi ke interstitium, tubulus renal, dan tubular lumen menyebabkan nefritis interstitial (radang ginjal interstitial) dan nekrosis tubular (kerusakan tubuli ginjal). Gagal ginjal biasanya terjadi karena kerusakan tubulus, hipovolemia karena dehidrasi dan peningkatan permeabilitas kapiler. Gangguan hati berupa nekrosis sentrilobular dengan proliferasi sel Kupffer. Pada konsisi ini akan terjadi perbanyakan sel Kupffer dalam hati. Leptospira juga dapat menginvasi otot skeletal menyebabkan edema, vakuolisasi miofibril, dan nekrosis fokal. Gangguan sirkulasi mikro muskular dan peningkatan permeabilitas kapiler dapat menyebabkan kebocoran cairan dan hipovolemia sirkulasi.

Pada kasus berat akan menyebabkan kerusakan endotelium kapiler dan radang pada pembuluh darah. Leptospira juga dapat menginvasi akuos humor mata dan menetap dalam beberapa bulan, sering mengakibatkan uveitis kronis dan berulang. Setelah infeksi menyerang seekor hewan, meskipun hewan tersebut telah sembuh, biasaya dalam tubuhnya akan tetap menyimpan bakteri Leptospira di dalam ginjal atau organ reproduksinya untuk dikeluarkan dalam urin selama beberapa bulan bahkan tahun.

Pengobatan
Pengobatan leptospirosis dapat dilakukan dengan menggunakan obat-obatan antibiotic. Antibiotik yang dapat diberikan ialah doksisiklin, enrofloksasin, ciprofloksasin atau kombinasi penisillin-streptomisin. Selain itu, diperlukan terapi suportif dengan pemberian antidiare, antimuntah, dan infus.

Daftar Pustaka

Quinn PJ, Markey BK, Carter ME, Donnelly WJ, Leonard FC. 2002. Veterinary Microbiology and Microbial Disease. USA: Blackwell Science.





2 komentar: