Minggu, 31 Maret 2013

THE BLACK Code



Cerita tentang cerita
Penulis : Metrizal Abdi Taufik
               KADIV KOMINFO IMAKAHI Cabang FKH IPB

#Bagian I : Who am I ?
                “Suatu hari saya berjalan menaiki tangga. Saya hanya ingin menapaki jejak yang mungkin masih tersisa . Saya bertemu dengan seseorang pria  yang tidak pernah ada. Dia melihat kearah ku dengan tatapan kosong. Hanya saja, dia memang tidak pernah ada disana.”

 Itu hanya sebuah kutipan disurat kabar yang ku baca pagi ini. Cuaca kota Polo memang sedikit mendung di pagi yang harusnya kita bisa menikmati siraman cahaya mentari pagi. Tapi apa boleh buat, mentari malu-malu bersembunyi dibalik rindangnya awan. Suara-suara kicauan burung menemani pagi dengan desiran angin sejuk. Aku hanya berusaha menikmati pagi ini. Ku pejamkan mata sejenak,  mendengarkan alunan musik alam yang syahdu, dan menikmati aroma pagi yang segar. Kenapa aku ada disini? Sejak kapan aku ada disini?

Orang-orang memanggilku ‘Cosmos’, aku sendiri tidak tahu kenapa aku disebut ‘cosmos’. Jika setiap anak yang lahir harus memiliki dokumen kelahiran, aku tidak punya sama sekali. Jika setiap anak hidup dengan dekapan orang tua mereka, aku bahkan tidak tahu siapa orang tuaku. Aku tidak ingat siapa yang telah melahirkanku, aku tidak tahu siapa yang membesarkanku. Ah sejak kapan aku ada disini? Kenapa aku ada disini?

Pagi itu aku hanya duduk sendiri di tengah taman kota.  Aku melihat sekeliling taman dipenuhi oleh anak-anak bermain dengan riang. Apa hidup kita hanya diisi dengan tawa dan bermain? Aku tidak tahu, tidak ada yang pernah memberiku penjelasan. Setiap kali aku ingin bertanya, mereka seakan-akan pergi menjauhi ku. Aku sepertinya dijauhi semua orang. Mereka menatapku dengan tatapan kebencian, tatapan penuh curiga. Mereka memang tidak pernah bicara padaku, tapi tatapan mereka selalu mengatakan ‘Hei kau! Pergilah dari pandanganku!’. Inilah hidupku, life is life.

Saat aku terlalu jauh hanyut dalam pikiranku, tiba-tiba aku dikagetkan oleh sebuah bola yang datang menghantam kepalaku. Aku langsung tersungkur diatas tanah, rasanya cukup sakit dan membuatku pusing. Sambil berusaha bangun, seorang anak datang kepadaku dengan berlari.

“Maaf Cosmos, kami tidak sengaja. Apa kamu baik-baik saja?” teriak anak yang datang kepadaku dengan setengah berlari. Anak pendek, berbadan gemuk, dengan rambut lurus datang sambil mengambil bola dari tanganku. Berbeda sekali denganku, badanku kurus, kecil, rambutku juga keriting.
“Aku tidak apa-apa, Joe “ jawab ku sembari memberikan bola kepadanya.
“Apa yang kamu lakukan sendirian disini?” tanya Joe.
“Tidak, aku hanya mampir saja. Aku juga tidak tahu harus melakukan apa.”
“Hei, kenapa kau tidak bergabung saja bersama kami? Kamu bisa jadi penjaga gawang, tim ku juga kekurangan pemain. Ayo, ini pasti seru !” kata Joe.
“Apa aku boleh bergabung?”  tanyaku setengah percaya.
“Tentu saja, kenapa tidak? Ayo buruan, mereka telah menunggu kita” teriak Joe penuh semangat.

Kami langsung berlari ke arah lapangan kecil dimana keempat anak lain menunggu kedatangan Joe. Mereka adalah Richard, Oliver, Jack, dan Jane. Jane, merupakan satu-satunya perempuan diantara mereka, melambaikan tangannya ke arah kami.

“Whoaa... Cosmos, kamu mau ikut bermain bersama kami?” ucap Richard. Richard merupakan ‘pemimpin’ kelompok anak-anak ini. Postur tubuhnya memang yang paling tinggi dan besar diantara kami. Meski terlihat seperti bocah nakal, tapi sebenarnya Richard adalah anak yang baik. Dia selalu melindungi teman-temannya dari kejahilan bocah-bocah nakal. Selain itu, dia juga anak yang sangat penurut terhadap orang tuanya.

“Oh, hehe.. iya...meskipun aku tidak begitu yakin” jawabku sambil menggaruk-garuk kepala walapun tidak gatal.

“Ayolah, jangan malu-malu begitu.” Kata Oliver.
Okey... kita jangan buang-buang waktu lagi. Tim kalah jadi pecundang !?” teriak Joe.

Apa hidup ini sebuah permaianan? Kita berjalan dalam visualisasi ilusi. Batasan antara nyata dengan ilusi sangat tipis. Aku tidak percaya saat ini sedang bermain bola. Mungkin ini hanya ilusi mata yang menipu otak sendiri. Barangkali saja, diluar sana saya sedang berbaring lemah. Ah... rasanya tidak juga. Saya melihat dengan jelas wanita-wanita tua tergopoh-gopoh berlari kearah kami. Apa yang sedng mereka kejar, atau mungkin mereka sedang dikejar sesuatu.

“Ayo pulang nak... sebaiknya kita pindah tempat saja” jawab wanita yang paling kurus. Dia langsung menarik Joe, menyeretnya menjauh dari lapangan. 
“Tapi aku masih mau bermain bola...? ayolah ma, kami sedang bertanding” rengek Joe.
“Ahhh sudah, kita main yang lain saja. Tidak aman kalian bersama dia” sambung wanita hitam pendek bertubuh gendut. Dia juga ikut turut serta menyeret anaknya, Oliver menjauhi lapangan. Tak beda jauh, ketiga wanita lain juga menggendong, membawa buah hati mereka menjauhi lapangan. Mereka meninggalkan ku sendiri disini. Mereka menatapku dengan tatapan penuh hina. Mereka menatapku dengan tatapan penuh benci. Aku tidak tahu, apa salahku. Aku hanya baru memegan bola saja. Bola? Ah aku ingat, Joe lupa membawa bola bersamanya.

“Hei Joe ! kamu meninggalkan bolanya ?!” teriak ku.
“Ambil saja olehmu. Kami sudah tidak membutuhkannya !” balas wanita tua yang menyeret Joe.
Lagi, aku sendiri lagi ditengah hampanya suara kehidupan yang terus menerjang menghantam pantai yang terus terkikis. Rasanya sesuatu yang sesak memenuhi rongga dadaku. Hampir rasanya aku tidak bisa bernapas. Tapi aku tidak tahu apa yang ada dalam dadaku saat ini. Semoga ini hanya mimpi indah ditengah terik matahari.

Semakin dalam kau hanyut didalamnya, semakin kuat dia akan menguasai dirimu. Kau akan meninggalkan semua sifat manusiamu. Apa lagi yang bisa kau harapkan dengan semua itu? . Kau tidak ada bedanya dengan pria yang kau temui di tangga itu, sayangnya dia memang tidak pernah ada disana. Kenapa  kau ada disni? Sejak kapan kau ada disini? Pergilah ! Kita orang-orang yang dilupakan sejarah !

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar