Kamis, 27 September 2012

Anaplasma pada anjing


Anaplasmosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh adanya infeksi Anaplasma sp dari filum Ehrlichiaceae. Anaplasma merupakan salah satu jenis infeksi parasit darah pada anjing. Spesies Anaplasma awalnya dianggap sebagai parasit protozoa, tetapi kemudian pada tahun 2001 klasifikasinya dirubah dan termasuk dalam golongan rikettsia.  Penyakit ini sama seperti babesia bersifat intraselular pada sel darah merah. 

Gambar 1. Anaplasma pada anjing

Di Indonesia spesies anaplasma yang sering menyerang hewan ialah dari Anaplasma maginale. Selain itu jenis anaplasma lainya yang menyerang hewan ialah anaplasma centrale. Anaplasma marginale terjadi di sebagian besar negara tropis dan subtropis, dan di beberapa daerah yang beriklim sedang  (OIE 2010).  Laporan lainya menyebutkan bahwa agen penyebab anaplasmosis pada anjing umumnya disebabkan oleh infeksi Anaplasma phagocytophilum (Tsachev 2009).


Penyakit ini dapat bersifat akut maupun kronis.  Infeksi anaplasma biasanya ditandai dengan  adanya demam, anemia, ikterus,  dan kekurusan tanpa hemoglobinuria. Ada tiga fase penyakit infeksi anpalasma pada anjing. Fase akut cenderung ringan dan terjadi 1  sampai 3 minggu setelah anjing tersebut digigit oleh vektor yang terinfeksi.

Anaplasma mulai  masuk dalam sel darah merah, hal ini menyebabkan sistem kekebalan tubuh akan  menghancurkan sel darah merah yang terinfeksi, dan  mengakibatkan penurunan sel darah merah. Anjing dapat menjadi lesu, kurang nafsu makan,  dan dapat menyebabkan pembesaran pada kelenjar getah bening. Demam mungkin ada juga terjadi. Fase ini jarang mengancam nyawa. Kebanyakan agen anaplasma akan hilang sendiri setelah fase satu, tapi beberapa akan melanjutkan ke tahap berikutnya.

Tahap kedua dianggap sebagai "fase subklinis", di mana anjing terlihat normal. Agen anplasma biasanya bersembunyi di limpa pada fase ini. Hal ini menyebabkan umum ditemukan pembesaran limpa. Anjing bisa berada pada fase  subklinis selama berbulan-bulan atau bahkan hingga bertahun-tahun. Fase terakhir adalah fase kronis ketika anjing sakit lagi. Selama fase ini hingga 60% anjing terinfeksi akan mengalami anemia akibat berkurangnya sel darah merah.

Spesies Anaplasma ditularkan baik secara mekanis maupun secara biologis oleh vektor arthropoda. Studi yang dilaksanakan untuk mempelajari anaplasma  melaporkan daftar sampai dengan 19 arthropoda yang berbeda yang mampu menularkan Anaplasma marginale secara eksperimental. Salah satu arthropoda yang dapat menularkan anaplasma di anjing ialah Rhipicephalus sanguineus. Transmisi penyakit ini dapat melalui transmisi Intrastadial atau transstadial (Tsachev 2009).

Fase awal saat anaplasma pertama kali dapat terinfeksi ialah pada saat 4-18 hari setelah infeksi dengan ukuran tubuhnya berkisar 1-6 ┬Ám. Identifikasi agen anaplasmosisi dapat dilakukan dengan pengamatan pada preparast ulas darah yang diwarnai dengan pewarna giemsa.

Pengobatan anplasmosis dapat dilakukan dengan pemberian anti anaplasmosis berupa antibiotik seperti doxycicline dengan dosis perhari 10 mg/kg bb selama 3-4 minggu (Tsachev 2009). Selain itu obat-obatan seperti imiodiocarb juga dapat digunakan untuk mengobati anaplasma. Obat ini juga dapt bekerja ganda menghancurkan parasit lain seperti babesia.

Daftar Pustaka

OIE (The World Organisation for Animal Health). 2010. OIE Terrestrial Manual 2010. http://www.oie.int.  [di akses 18 Juni 2012].

Tsachev I. 2009. Canine Granulotic Anaplasmosis. Trakia Journal of Sciences  7 (1): 68-72.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar