Minggu, 06 Mei 2012

Manusia dan Satwa liar


Kematian Gajah Sumatra di  daerah Aceh baru –baru ini menambah daftar panjang konflik manusia dan satwa liar. Gajah yang mati tersebut diduga diracun disebuah perkebunan kelapa sawit.  Pertanyaan nya bahwa siapkah yang harus disalahkan pada kejadian ini?

Manusianya kah yang dengan sengaja memberikan racun, atau gajah yang sudah dianggap hama dan sering merusak perkebunan warga? Apakah kejadian ini akan terus dan terus berlangsung?
Perlu kita kaji dan perhatikan lebih mendalam. Permasalahan konflik manusia dan satwa liar adalah masalah klasik yang tak kunjung selesai, terus terjadi dan berulang.  Semakin lama masalah ini menjadi semakin kompleks sehingga penyelesaianya pun semakin sulit. 

Ada beberapa aspek yang perlu kita perhatikan bila ingin melihat permasalahan konflik antara manusia dan  satwa liar. Aspek-aspek tersebut dapat berupa  aspek Sosial- kemasyarakatan, ekonomi dan aspek hukum.
Dari aspek Sosial-kemasyarakatan dan ekonomi, konflik antara manusia dan satwa liar terkait erat dengan pembukaan hutan.  Dengan perkembangan pertumbuhan penduduk saat ini maka kebutuhan akan tempat tinggal juga semakin meningkat. Hal ini menyebabkan area tempat tinggal juga menjadi semakin luas. Salah satu tempat yang menjadi target  perluasan area ialah area hutan yang menjadi tempat tinggal bagi satwa liar.
Semakin dekat area tempat tinggal antara manusia dan hewan menyebabkan interaksi yang terjadi juga semakin tinggi. Sehingga konflik yang terjadi semakin sering. Konflik  yang terjadi juga menjadi semaki n buruk ketika hewan liar sudah mulai dianggap sebagai hama yang dapat merugikan serta membahayakan.  Konflik antara manusia dan satwa liar yang terjadi dibeberapa daerah  cenderung terjadi karena semakin dekatnya pemukiman manusia dengan kawasan hutan yang menjadi rumah bagi satwa liar.  Dibeberapa media kerap kita mendengar satwa liar seperti harimau masuk kedalam pemukiman warga. Hal ini tentu sangatlah berpotensi menimbulkan konflik antara kedua belah pihak. Masuknya harimau ke pemukiman dapat membahayakan warga ataupun sang harimau.

Areal pemukiman yang dekat dengan hutan tentu sangat berisiko didatangi hewan liar. Harimau menganggap area pemukiman merupakan areanya untuk mencari makan. Sehingga dengan leluasa harimau masuk kedalam pemukiman warga.  Namun celakanya warga menganggap harimau yang masuk kedalam pemukiman sebagai pengganggu yang harus disingkirkan. Harimau dianggap berbahaya karena dapat menyerang warga dan dapat menyerang hewan ternak warga. Hal ini akan semakin buruk jika kerusakan hutan yang terjadi diarea tempat mencari makan harimau mengalami kerusakan.  Bila terjadi kerusakan hutan maka otomatis daerah mencari makan harimau semakin berkurang, sehingga hewan ini akan lebih sering masuk kepemukiman warga untuk mencari makanan.  Bila hal ini sudah terjadi maka penyelesaian masalahnya akan semakin sulit.

Selain itu, pembukaan hutan dibeberapa daerah juga ikut memperparah kondisi konflik antara satwa liar dan manusia. Konversi ini menyebabkan semakin sempitnya areal hutan yang dimiliki oleh satwa liar. Pembukaan hutan di daerah-daerah di indonesia saat ini banyak terkait dengan konversi lahan hutan menjadi perkebunan sawit. Hutan-hutan dirambah dan dihancurkan untuk digantikan dengan tanaman sawit yang dinilai lebih produktif. Bukan hanya hutan produktif yang dirambah, bahkan hutan lindung pun sudah mulai di incar oleh kalangan-kalangan ini untuk dirubah menjadi perkebunan sawit.  Salah satu kasus konflik antara satwa liar dan manusia yang banyak disoroti ialah kasus pembantain orang utan. Area hutan yang menjadi tempat orang utan dirubah menjadi perkebunan sawit. Setelah menjadi perkebunan sawit, orang utan kemudian dilarang masuk kedalam perkebunan tersebut karena dianggap sebagai hama. Contoh lainya ialah Gajah yang di duga diracun di Aceh. Gajah tersebut masuk kedalam perkebunan sawit yang dulunya merupakan hutan area gajah tersebut mencari makan. Namun begitu dirubah menjadi perkebunan sawit, gajah tersebut tidak boleh memasuki area tersebut. Bila masuk maka kemungkinan untuk dibunuh dengan diracun.

Permasalahan lainya ialah, anggapan hewan liar sebagai hama. Tidak hanya diperkebunan sawit, kerap satwa liar di gelari sebagai hama karena biasa merusak perkebunan atau memangsa ternak milik warga.  Bila hal ini terjadi maka tak dapat dielakan lagi, konflik antara manusia dan satwa liar ini pasti terjadi.  Kerugian akibat kerusakan lahan menyebabkan masyarakat menjadi semakin antusias untuk menyakiti atau membunuh satwa liar.

Secara Hukum membunuh satwa liar yang dilindungi merupakan tindakan yang melanggar hukum.  Hal ini diatur dalam UU no 5 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.  Dalam undang-undag tersebut secara jelas disebutkan tentang larangan  menyakiti ataupun membunuh satwa liar yang dilindungi. Namun dilapangan, penegakan hukum ini masih sangat lemah. Penegak hukum pun terkesan tidak tegas. Dapat kita lihat bahwa pelaku-pelaku yang melakukan perusakan hutan, pembunuhan  atau perburuan liar terhadap satwa liar masih banyak yang belum diproses secara hukum. 

Permasalahan konflik antara satwa liar dan manusia  telah menjadi sangat kompleks saat ini. Namun permasalahan utama dari konflik yang terjadi ialah adanya kerusakan habitat. Bila kerusakan hutan yang ada terus menerus terjadi, maka konflik antar manusia dan satwa liar tidak akan pernah bisa dihindari.
Pemerintah harus mulai serius untuk menganggapi hal ini. Mengingat bahwa hewan liar sebagai salah satu bagian ekosistem. Hilangnya satwa liar maka akan menyebabkan perubahan dari ekosistem yang dapat mempengaruhi keseimbangan alam. Hal ini tentu akan berdampak pada manusia. Viva Veteriner

Tidak ada komentar:

Posting Komentar