Langsung ke konten utama

Kasus Displasia Abomasum pada Sapi

Displasia Abomasum (DA) merupakan suatu kondisi dimana terjadi perpindahan abomasum dari lokasi yang sebenarnya.  Umumnya kasus DA banyak terjadi pada sapi perah (Friesian Holstein) yang memiliki produksi susu yang tinggi. Kasus ini biasanya terjadi pada akhir masa kebuntingan berkisar 2 minggu sebelum kelahiran (2 minggu prepartus ) dan pada awal masa laktasi yaitu sekitar 8 minggu setelah kelahiran (8 minggu post partus). Selain sapi, kasus DA juga dapat terjadi pada jenis ruminansia lainya, walaupun kasus pada rumininasia lainnya jarang terjadi.

Faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya kasus DA ialah adanya diet yang tidak seimbang, seperti pemberian konsentrat lebih banyak dibandingkan dengan rumput (fiber). Kasus DA  cenderung meningkat pada saat musim kemarau, hal ini terjadi karena keterbatasan hijauan sehingga para peternak lebih banyak memberikan konsentrat. Pemberian Konsentrat yang berlebihan pada sapi perah juga dilakukan petani untuk meningkatkan produksi susu sapi. Kasus DA biasanya juga disertai atau disebabkan oleh beberapa penyakit seperti Hypocalcemia, Ketosis, Mastitis, dan Metritis.

Gejala Klinis dari Penyakit ini ialah  bentukan kembung asimetris bagian samping bawah bila kita melakukan inspeksi dari belakang.  Selain itu, pada beberapa kasus akan terjadi penurunan jumlah feses serta kondisi diare. Pada palpasi dari fossa paralumbar kiri, rumen tidak teraba, tetapi akan terasa abomasum yang membesar. Pada saat proses perkusi dan auskultasi (tangan dan stetoskop) dilakukan, maka akan terdengar bunyi pink (ketukan uang logam kegelas).

Ada beberapa kondisi variasi pada DA, hal ini ditentukan dari arah abomasum berpindah. Perpindahan abomasum bisa terjadi kebagian abdomen sebelah kiri, dapat juga berpindah ke sebelah kanan dan/atau disertai dengan perputaran. Letak abomasum secara normal adalah di bagian ventral rongga perut sebelah kanan, diantara Os Lumbal I sampai dengan Os Lumbal III.  Displasia abomasum dapat dibagi menjadi
  1.  Left displacement of the abomasum (LDA, Twisted Stomach)
  2. Right displacement of the abomasum (RDA)
  3. Right abomasal volvulus (right torsion of the abomasum, abomasal torsion)
Kasus DA merupakan kasus yang harus segera diangani. Bila sudah kronis maka akan bersifat fatal dan sulit untuk diobati. 

Penanganan Kasus DA dapat dilakukan dengan bebebrapa cara yaitu dengan terapi tanpa operasi dan terapi dengan operasi. Pada kasus ringan dengan tingkat DA baru berkisar 20-30% maka dapat dilakukan penggulingan Hewan (Rolling Technique). Selain itu metode lain yang dapat dilakukan untuk mengobati DA ialah dengan pembeian ion kalsium (Ca). 



Pada kasus yang memiliki tingkat keparahan yang tinggi maka biasa dilakukan tindakan operasi. Ada beberapa metode operasi yang dapat dilakukan dalam mengobati DA antara lain Right paramedian abomasopexy, right flank omentopexy, dan left flank abomasopexy. Tehnik-tehnik operasi tersebut dilakukan untuk fiksasi abomasum ke dinding bagian dalam abdomen. Untuk operasi LDA biasanya dilakukan dengan berdiri, sedangkan operasi RDA dengan berbaring.

Sumber : 
Ogilvie TH. 1998. Large Animal Internal Medicine First edition. USA: Williams & Willkins.
[Coretan si Budax]. 2009. Displasia Abomasum pada Sapi perah. [terhubung berkala]. http://budaxperah.wordpress.com/2009/04/02/ displasia-abomasum/. Diakses 24 November 2011.

Komentar

  1. salam kenal mas..., yuk ikutan dukung persamaan hak bagi penyandang disabilitas di Indonesia, dan bagaimana pandangan meeevet terhadap penyandang disabilitas?

    Ditunggu kunjungan baliknya disini ya....Disabilitas Dan Pandangan Masyarakat :) | ngarep | malu

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Asidosis Metabolik pada Ruminansia

Pendahuluan Asidosisadalah suatu kondisipatologisyang berhubungandengan akumulasiasam ataumenipisnyacadangan basa dalamdarah dan jaringantubuh, danditandai dengan konsentrasiion hidrogen yang meningkat.  Asidosis metabolik pada hewan ruminansia dapat terjadi pada sapi potong maupun sapi perah yang diberikan pakan yang mengandung karbohidrat yang mudah di fermentasi (Greenwood dan McBride 2010).
Mikroba Anaerobikdalamrumen dansekum akan melakukan fermentasikarbohidrat untuk menghasilkan VFA (Volatil Fatty Acid)danlaktat. Hewan ruminansia akan menyerapasamorganik darirumen danusus untuk metabolismeoleh jaringan. Saat pasokankarbohidratmeningkattiba-tiba(yaitu,saat menggunaan konsentrat yang memiliki kandungan pati yang tinggi), pasokan jumlah asamdanprevalensilaktatakan mengalami peningkatan. Biasanya,laktatadadalam saluran pencernaandalam konsentrasi yang rendah, tetapi ketika pasokankarbohidrat meningkat dengan tiba-tiba maka jumlah laktat akan menumpuk. Adanya penumpukan asam yang tiba…

Dokter hewan

Dokter Hewan..... 
Tidak terasa menyandang status ini sudah lebih dari satu tahun
Sungguh sangat luar biasa

Dokter hewan (disebut juga medik veteriner) adalah dokter yang menangani hewan dan penyakit-penyakitnya. Selain bertanggung jawab terhadap kesehatan hewan (keswan), dokter hewan juga berperan dalam meningkatkan kesejahteraan hewan (kesrawan) serta kesehatan masyarakat veteriner (kesmavet).

Luar biasa bukan.....  menyandang status yang mempunyai tanggung jawab yang cukup besar
karena selain harus mensejahterahkan hewan juga harus menjaga kesehatan manusia

Salah satu semboyan yang sering didengungkan didunia kedokteran hewan ialah "manusia mriga satwa sewaka" yang artinya mensejahterahkan manusia melalui kesehatan hewan.Tugas yang tentu sangat mulia

hmm...  sekedar update.. dari dulu sampe sekarang. Saya Bangga menjadi dokter hewan

Abses pada sapi

Abses merupakan salah satu masalah yang cukup sering terjadi pada sapi perah. Kondisi abses banyak terjadi pada peternakan sapi perah yang memiliki tingkat sanitasi kandang yang rendah. Abses merupakan kumpulan nanah(netrofil yang mati)yang berada dalam kavitas jaringan tubuh yang biasanya pada daerah kulit dan menimbulkan luka yang cukup serius karena infeksi dari bakteri pembusuk. Abses itu sendiri merupakan reaksi ketahanan dari jaringan untuk menghindari menyebar nya benda asing di tubuh. Pada abses terdapat nanah yang terlokalisasi dan dikelilingi oleh jaringan yang meradang. Gejala khas abses adalah peradangan, merah, hangat, bengkak, sakit, bila abses membesar biasanya diikuti gejala demam, selain itu bila ditekan terasa adanya terowongan (Boden 2005).